Sunday, October 28, 2018

maaf.

Maaf, untuk hari ini saya harus berusaha untuk tidak menyangkutpautkan keadaan yang ada antara saya dan Anda. Untuk hari ini saya harus meruntuhkan gengsi saya demi bisa berhadapan dengan Anda yang sedang menyalahkan diri.

Maaf, saya harus benar-benar lakukan itu tadi. Karena saya hanya ingin Anda bahagia tanpa menyalahkan diri Anda hari ini. Karena seharusnya Anda menitikkan air mata bangga, bukannya menitikkan air mata bersalah.

Maaf, sekali lagi. Saya takkan lakukan ini lagi, jika Anda tak menginginkannya.

Wednesday, October 24, 2018

Rindu dan Aku

Malam ini, Rindu mengetuk pintu hatiku yang nyaris tertutup lalu menyelonong masuk tanpa dosa. Setelah itu tanpa rasa bersalah ia mengobrak-abrik seisi hatiku dan mencari kotak kenanganku denganmu waktu itu. Kotak itu telah kukunci rapat-rapat, bahkan aku nyaris lupa di mana kutaruh kunci itu. Dan entah pengetahuan dari mana, rindu menemukan persembunyian sang kunci dalam sekali pencarian. Lalu dengan segera rindu membukanya dan menjejerkan segala isi kotak itu di hadapanku. Seusai mengurutkan peristiwa yang ada di dalam kotak itu, ia meninggalkanku dengan isi kotak sialan itu.

Mataku meneliti tiap benda yang dipamerkan di hadapanku. Kebanyakan benda di hadapanku ini berbentuk foto. Dari tiap sorot mata dan lekukan bibir, aku bisa pastikan bahwa itu semua merupakan saat-saat bahagia milikku dan milikmu. Ada juga yang berbentuk kertas yang berisikan kata-kata yang tak pernah kulupa, baik itu yang pernah kutulis maupun kau yang menuliskannya.

Otakku pun dikuasai oleh Rindu. Ia membuka sebuah pintu yang mengarah ke penyimpanan memoriku denganmu saat itu. Lalu semua memori di dalam sana diputarkan bagai film yang tak berujung. Nyamannya bahumu, teduhnya tatapanmu, kuatnya genggamanmu, tenangnya suaramu, manisnya kata-katamu, dan nyatanya rasa sayangmu saat itu. Semua itu diputar tanpa ampun.

Dan aku duduk bersila, lemah nan pasrah dengan kelakuan rindu itu. Entah sejak kapan, air mata mulai berlomba-lomba untuk menyentuh lantai. Diriku tak mampu mempertahankan benteng yang dibangun sejak kau pergi ini. Di malam yang kelam ini, benteng itu runtuh kembali. Atau perlu kukatakan, hancur lebur bagai kapal pecah?

Benteng itu rata dengan tanah sekarang, dan sialnya aku harus bangun itu dari awal lagi. Sendirian.

"Kau tahu," Rindu kembali menghadapku, "Kau harus katakan padanya bahwasanya malam ini aku datang menghampirimu dan mengobrak-abrik ini." Ia katakan itu dengan santainya, seperti kata-katanya itu sama sekali tidak salah.

"Kau mengatakan itu seolah-olah itu merupakan hal mudah, seperti membalikkan telapak tangan," sanggahku dengan suara bergetar. Aku sama sekali tidak menatap Rindu, namun aku bisa merasakan tatapannya yang mengejekku.

"Memang mudah, bukan?" suara angkuhnya memenuhi ruangan, "Kau tinggal pergi menghadapnya dan bilang bahwa aku datang dan mengobrak-abrik ini semua. Lalu kau minta dia agar datang kembali ke sini dan membantumu merapikan semuanga seperti sedia kala." Kali ini, aku beranikan diriku menatap nanar matanya. Mengisyaratkannya untuk menarik perkataannya barusan dari tatapan mataku. Namun sepertinya ia tak berniat dan tetap bersikukuh dengan pernyataannya itu.

"Dia takkan pernah kembali, kuharap kau tahu tentang itu, wahai makhluk sialan." Air mataku kembali jatuh dengan mulusnya, dan suaraku makin bergetar dari sebelumnya. Saking bergetarnya, sekali lagi aku berbicara rasanya aku sudah tak bisa berkata-kata lagi. Kuatur napasku dan gerakan naik-turun bahuku, lalu kulanjutkan perkataanku.

"Keadaan menghancurkan segalanya, ia membangun jarak yang teramat jauh antara aku dan dia. Jika bisa kusimpulkan secara sepihak, mungkin kotak kenanganku dengannya di hatinya sudah dia buang, bahkan dia bakar sampai menjadi abu. Juga otakknya sudah menghapuskan namaku beserta segala hal tentangku. Nyamannya bahuku, teduhnya tatapanku, kuatnya genggamanku, tenangnya suaraku, manisnya kata-kataku, dan nyatanya rasa sayangku saat itu. Semua memori manisku dengannya sudah dia hapuskan, namun memori pahit terus membekas di sana. Bisa kulihat dari tatapan dinginnya saat kedua indra penglihatannya berserobok dengan milikku. Dengan itu semua maka kuminta kau, Rindu, untuk jelaskan padaku bagaimana caranya untuk membawanya kembali dan merapikan ini semua?"

Kuakhiri pidato singkatku itu dengan sesegukan yang hebat dan derasnya air mata yang jatuh ke lantai pun jejaknya di pipi. Kututup bibirku yang bergetar menggunakan telapak tangan kananku, dan tangan kiriku meremas baju bagian dadaku. Bahuku bergetar lebih hebat dari sebelumnya. Aku tak memperhatikan Rindu yang entahlah apakah ia dengarkan semua kata-kataku itu atau membiarkannya pergi mengikuti arus udara.

"Dan kau pikir aku di sini akan membantumu mencarikan solusi?" tanyanya balik dengan nada amat sangat angkuh yang membuat telingaku panas mendengarnya.

"Seperti inilah tugasku. Datang tanpa diundang dan masuk tanpa diizinkan, lalu mengobrak-abrik kotak kenanganmu dengan orang yang paling berharga untukmu. Sebatas itu. Tak ada hak pula kewajiban untukku membantu mencarikan solusi untukmu. Jadi mengenai masalahmu itu, silahkan cari jalan keluarnya sendiri. Itu bukan urusanku, pun aku tak peduli."

Lalu Rindu menyelonong pergi tanpa rasa iba padaku. Meninggalkan hatiku yang isinya bagai kapal pecah, otakku yang tanpa henti memutarkan memori yang sudah pernah kuniatkan untuk melupakannya, bentengku yang sudah rata dengan tanah, juga diriku yang rasanya inginku memenggal kepalanya itu. Tanpa mengindahkan air mata yang belum berhenti mengalir, aku mengambil salah satu lembar foto yang berserakan di hadapanku dan satu buah pena. Kubalik foto itu sehingga bagian yang kosong menghadapku, lalu kutaruh di lantai dan mulai menggoreskan kata demi kata dibalik foto itu.

Bagaimana rasanya sudah bisa membakar kotak kenangan yang pernah kita simpan bersama? Bagaimana rasanya sudah bisa melupakan memori yang pernah kita rekam bersama? Bagaimana rasanya sudah bisa membangun kembali benteng yang pernah kita runtuhkan dan bangun bersama kembali? Bagaimana rasanya sudah bisa mengubah kata ganti 'kita' menjadi 'aku dan kau'? 
Bagaimana rasanya sudah bisa pergi dari hidupku dengan leganya? Puastah?

Kubalik kertas itu sehingga fotonyalah yang kulihat sekarang. Foto itu merupakan foto terakhirku denganmu, kurang lebih empat belas jam sebelum akhirnya kauputuskan untuk mundur. Tak perlu kudeskripsikan foto itu, kau pun tahu foto yang mana yang sekarang kupegang.

Kudekatkan foto itu hingga jaraknya dengan hidungku hanya lima sentimeter. Kutatap mataku dan matamu di sana, mereka memancarkan kebahagiaan, kelegaan. Seolah-olah mengejekku yang kini sedang hancur-hancurnya. Lalu kubisikkan dua kalimat pada foto itu.

"Rindu baru saja datang padaku. Namun atas dasar tahu diri akan kurapikan semua ini sendiri, tanpamu."


—spoken whalien, 9:19 pm.

Sunday, October 7, 2018

Rindu

Jika suatu hari kau merindukanku, tataplah langit malam. Lalu carilah satu sosok paling terang di antara gugusan bintang, atau jika langit seluas itu tertutupi awan gelap carilah satu bintang yang tak segan-segan tetap memancarkan cahayanya. Setelah itu pejamkan kedua matamu. Rasakan hembusan lembut di pipimu dari sang angin seperti sentuhan jemariku yang selalu kausuka. Dengarkan bisikan sang angin perihal aku pun merindukanmu, tak pernah absen barang sekedip mata. Putarkan memori bagaimana caraku menggenggam erat tanganmu dan sesekali kulepas lalu memilih untuk menggandeng erat lenganmu seperti tak kuizinkan engkau untuk pergi. Bayangkan di salah satu pundakmu itu beristirahat kepalaku dan bisa kaurasakan senyumku mengembang. Dan kuharap rasa rindumu terobati meski hanya setitik.

Aku katakan ini jika kau merindukanku suatu saat. Jika kau memang takkan pernah merindukanku lagi, kuhanya ingin kautahu bahwa aku selalu melakukan ritual yang barusan kuuraikan padamu.

Namun jangan akan pernah lakukan itu sepertiku yang selalu melakukan itu tiap malam. Karena bukannya rinduku terobati, justru rinduku makin menjadi dan akhirnya bersama dengan keadaan, mereka membunuhku.

Bahwasanya kau takkan pernah membantuku mengobati rindu ini dengan kembali padaku.

Friday, October 5, 2018

Masa

Jujur, saya masih tak habis pikir bagaimana Anda bisa menjalankan hidup tanpa saya sesantai itu. Saya rasa Anda telah membuang semua memori masa itu, kan? Masa dimana Anda selalu menceritakan bagaimana hari berjalan dann apa saja yang mengusik pikiran Anda. Sampai-sampai Anda harus melampiaskan semuanya pada saya, saking parahnya. Dan begitu pula sebaliknya. Pada masa itu, kita saling bersandar dan mengadu pada satu sama lain.

Hingga datang masanya dimana kata kita tak pantas menjadi kata ganti saya dan Anda. Keadaan berbalik, termasuk dunia saya. Dunia saya tak pernah sehancur lebur ini. Dan itu harus saya hadapi seorang diri, tanpa sandaran untuk mengadu dan tangan untuk berpegangan. Karena di masa ini, Anda memilih untuk menarik diri dari sandaran dan menghempas genggaman. Lalu melangkah pergi tanpa sedikit pun kautoleh aku barang sepersekian detik. Sialnya, di masa sekarang saya butuh sandaran yang kokoh dan genggaman yang erat juga tatapan yang teduh milik Anda. Apakah tak ada satu detikpun yang pernah berjalan yang mana Anda mengharapkan hal yang sama?

Apakah Anda benar-benar tak pernah mengharapkan saya kembali ke kehidupan Anda dan menjadi tempat sandaran juga genggaman tererat?


Jakarta, 6 Oktober 2018.
12:52 am.
방탄소년단 - 잡아줘.

Tuesday, October 2, 2018

the truth untold 2.0

Dari : si ansos
Untuk : kalian berlima

6:28

Bagiku, ini masih terlalu pagi untuk menuliskan hal-hal yang selama ini mengusik hari-hariku. Karena kutahu, semua yang kutuliskan di sini bisa saja membuat perasaanku jatuh tanpa parasut seharian. Namun mau bagaimana lagi, aku harus mengatakan ini.

Jujur, aku benar-benar takut untuk menyampaikan segala macam perasaan yang kurasa selama kurang lebih tiga tahun. Aku sadar bahwa cara pandangku dengan kalian seratus delapan puluh derajat berbeda. Maka dari itu, kuharap kalian menghargai segala kata yang terurai di sini, karena itu adalah hasilku membanting otakku agar kalian tidak merasa sangat tersinggung—aku tak mungkin buat kalian tidak tersinggung sama sekali.

Baiklah, untuk yang paling utama adalah aku lelah dengan cara kalian mengurungku dengan kriteria yang tak ada habisnya. Apa saja kriteria yang kumaksudkan di sini?

Pertama, gaya hidupku. Kalian berdua tahu bahwa aku cenderung introvert yang mana aku akan memilih untuk sendiri ketimbang selalu berada di tempat ramai. Kalian tak bisa membandingkanku dengan salah satu dari kalian. Sudah jelas kita berbeda, apa gunanya kalian membandingkan? Karena kalian memandang manusia yang memiliki sifat seperti ini adalah salah?

Dan untuk pertama dan terkhir kalinya kutegaskan, anti-social dengan asocial itu berbeda. Jangan menyamakan keduanya. Kita hidup di zaman modern, carilah apa definisinya sendiri.

Kedua, kriteria lelaki idaman. Baiklah, di poin ini aku akan mengungkapkan segalanya.

Hubunganku dengannya pernah berjalan, namun sudah berakhir sejak lama. Alasannya, aku hanya melindunginya dari marabahaya yang bisa saja terjadi nantinya. Aku melindunginya dari kalian, yang selalu saja menganggap dirinya adalah lelaki paling buruk yang kalian kenal seumur-umur. Cukup panas telingaku mendengarkan celotehan buruk tentangnya dari kalian. Dan akhirnya aku biarkan dia mengambil langkah mundur, dari segala macam hal di hidupku.

Saya tak pernah membuat keadaan, tapi saya mengikuti keadaan, begitu katanya saat kutanya mengapa aku dan dia bagai dua orang asing sekarang. Dan mohon maaf, aku menyalahkan kalian atas keadaan ini. Kalian membuat keadaan antara kita semua menjadi amat keruh. Kalian yang selalu menjelek-jelekkan dirinya di hadapanku. Kalian yang selalu membandingkan dirinya dengan orang lain di depan wajahku.

Kalian yang selalu menaruh kriteria ganteng tinggi pinter di tiap lelaki, tanpa menaruh tahu bagaimana menyikapiku dan duniaku.

Sekarang aku tak tahu harus bagaimana. Aku seharusnya menganggap kalian adalah tempatku berpulang dan mengadu. Namun kalian justru menjadi tempat yang sangat kuhindari sejak lama.

Aku pun tak tahu bagaimana mengakhiri tulisan ini, karena pada intinya aku lelah dengan hidupku yang rasanya seperti dikurung oleh jeruji kriteria idaman milik kalian. Itu saja.

7:12

Monday, October 1, 2018

Puastah?

Sudah puastah kalian?
Merebut kebahagiaanku dan menandainya dengan hal-hal yang buruk. Merendahkan seleraku dan menganggapnya bukan tipe kalian, yang pada kenyataannya dia adalah orang yang paling tahu bagaimana memperlakukanku. Menyalahkannya akan hal-hal yang kulakukan, dengan alasan bahwa hal-hal yang kulakukan adalah imbas buruk dari pola hidupnya. Tak pernah memercayai semua kata-kata dari bibirku yang menyatakan hal-hal baik tentangnya.
Puastah kalian akan mengurungku dengan nilai-nilai bodoh yang kalian tanam itu?

Sudah puastah kalian?
Memojokkanku dan menyalahkanku akan hal-hal yang terjadi di antara kita. Tidak berpikiran terbuka akan perspektifku yang sebagian besar dari mereka pun setuju. Mengabaikan segala macam saranku yang sebenarnya bisa membangun hal-hal yang baik untuk ke depannya. Membangun tenda di dalam rumah yang kita bangun bersama.
Puastah kalian akan mengabaikanku yang memiliki tujuan yang sama dengan kalian?

Sudah puastah kau?
Membuang segala kenangan yang pernah kita perjuangkan. Melupakan segala harapan yang kita toreh bersama. Menambah daftar orang-yang-harus-kau-benci dengan namaku di paling bawah sana. Mengabaikan kehadiranku di sekitarmu tiap harinya. Menggantung pertanyaanku yang kupertaruhkan segala egoku dengan jawaban yang sukses buat otakku dipenuhi dengan spekulasi-spekulasi gila.
Puastah kau akan melangkah pergi dari hidupku bak tak ada hal yang pernah kautinggal di sini?

Sudah puastah kalian, wahai penghuni dunia yang mengutukku untuk menjadi seekor whalien?

Alone

Kini, saya sendirian di tengah hiruh pikuk dunia. Disaat orang lain tertawa dengan penuh kebahagiaan, saya sedang bangkit dari keterpurukan.

Kini, saya duduk di kursi reyot yang dalam hitungan menit akan rubuh. Disaat orang lain dengan penuh arogannya memukul meja saya dan menunjuk-nunjuk saya dengan tatapan nanarnya, saya sedang merunduk dan meratapi nasib bahwasanya saya memanglah berbeda dari mereka, seratus delapan puluh derajat.

Kini, saya bersandar di dinding yang sudah amat rapuh bagai tulang lansia. Disaat orang lain memilih untuk bersandar dan mengadu pada sepasang bahu yang kokoh, saya baru saja ditinggalkan oleh sang pemilik bahu karena alasan dia tak pernah membuat keadaan namun dia mengikuti keadaan.

Kini, saya dengan segala macam warna hitam, abu-abu, dan putih, disertai olokan-olokan dari para pemilik warna. Disaat orang lain bermain di derasnya hujan demi melihat sang pelangi, saya memilih untuk terdiam di hiruh pikuk dunia seraya duduk di kursi reyot dan bersandar di dinding rapuh.

Mengapa? Karena saya tak butuh seluruh dunia beserta isinya. Beri saya satu orang yang akan saya jadikan dunia saya dan segala macam ucapan, tindakan, dan cara pikirnya mengisi dunia saya.

—saya butuh Anda.