Jika suatu hari kau merindukanku, tataplah langit malam. Lalu carilah satu sosok paling terang di antara gugusan bintang, atau jika langit seluas itu tertutupi awan gelap carilah satu bintang yang tak segan-segan tetap memancarkan cahayanya. Setelah itu pejamkan kedua matamu. Rasakan hembusan lembut di pipimu dari sang angin seperti sentuhan jemariku yang selalu kausuka. Dengarkan bisikan sang angin perihal aku pun merindukanmu, tak pernah absen barang sekedip mata. Putarkan memori bagaimana caraku menggenggam erat tanganmu dan sesekali kulepas lalu memilih untuk menggandeng erat lenganmu seperti tak kuizinkan engkau untuk pergi. Bayangkan di salah satu pundakmu itu beristirahat kepalaku dan bisa kaurasakan senyumku mengembang. Dan kuharap rasa rindumu terobati meski hanya setitik.
Aku katakan ini jika kau merindukanku suatu saat. Jika kau memang takkan pernah merindukanku lagi, kuhanya ingin kautahu bahwa aku selalu melakukan ritual yang barusan kuuraikan padamu.
Namun jangan akan pernah lakukan itu sepertiku yang selalu melakukan itu tiap malam. Karena bukannya rinduku terobati, justru rinduku makin menjadi dan akhirnya bersama dengan keadaan, mereka membunuhku.
Bahwasanya kau takkan pernah membantuku mengobati rindu ini dengan kembali padaku.
No comments:
Post a Comment